Minggu, 05 Januari 2014

RINTIHAN HATI


  Tak percaya, seolah hari-hariku penuh dengan rasa tak percaya. Betapapun  aku berusaha untuk meyakinkan diri, tapi hingga saat ini semua itu belum berarti. Entah sampai kapan aku akan merasakan hal seperti ini. Seolah ada yang hilang dari hidupku, seolah ini bukanlah Dunia yang aku kenal dulu, dunia yang penuh dengan kehangatan, penuh dengan cerita, canda dan tawa, yang mungkin tiada akan aku dapati lagi walau kapanpun dan dimanapun aku berada.

Tak jarang dalam ilusiku berharap bahwa aku hanya sedang bermimpi dalam tidur pulasku, yang nantinya akan terbangun dan menjalani hari-hari yang seperti dulu lagi, dengan Dunia indah yang kumiliki dan ku goreskan warna-warni di setiap hariku dan kulukiskan senyum diwajah orang-orang yang ada di sekitarku, di wajah orangtuaku, sanak saudara, sahabat-sahabatku, dan semua orang yang menyayangiku yang kini tersa begitu sulit untuk bisaku menadahkan tangan agar bisa di sentuh mereka, untuk bisa menghapuskan rasa sedih, gundah, dan hampa dari hati orang-orang yang istimewa itu. Namun semakinku ingin terbangun, semakin susah pula ku untuk tersadar bahwa aku tak disisi mereka lagi.
            Terkadang terbesit dalam benakku agarku kembali ke dunia itu. Tempatku mengukir masa lalu yang indah, dan penuh dengan rasa perhatian dulu. Namun seolah seorang sang raja yang member titah kepadaku dan menabu genderang perang di hadapanku agarku turun sebaai panglima perang yang mampu menaklukan semua musuh-musuhku, demi menyelamatkan keluargaku dan orang-orang yang ada di sekitarku. Karena ku tak ingin keluarga dan sanak saudara ku terluka, terhina, di cerca, dan terselimuti dengan kesusahan. Hingga terpikir olehku “ apalah artinya ku mengikuti keegoisan hati, di banding kebahagiaan keluargaku dan orang-orang di sekitarku.
            Kulangkah perlahan demi perlahan kaki ini, meski terasa begitu sangat berat. Dengan niat dan tekad yang bulat dan semangat dari orang-orang di sekelilingku menjadikan penuntun dan pemicu bagiku. Kutinggalkan semua kenangan indah, ku tinggalkan tempat ku dilahirkan dan di besarkan, kutinggalkan warisan tanah luhur nenek moyangku, kutinggalkan engkau kampung halaman tercintaku, meski dalam hati berkata
Text Box:  ‘’ tiada akan kekal ku jauh darimu, dan suatu saat nanti aku akan kembali kepangkuanmu dan termakan tanah disisimu setelah terwaris ilmu dan apa yang aku miliki kepada sanak saudaraku’’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar