Tak percaya, seolah hari-hariku
penuh dengan rasa tak percaya. Betapapun
aku berusaha untuk meyakinkan diri, tapi hingga saat ini semua itu belum
berarti. Entah sampai kapan aku akan merasakan hal seperti ini. Seolah ada yang hilang dari hidupku,
seolah ini bukanlah Dunia yang aku kenal dulu, dunia yang penuh dengan
kehangatan, penuh dengan cerita, canda dan tawa, yang mungkin tiada akan aku
dapati lagi walau kapanpun dan dimanapun aku berada.
Tak jarang dalam ilusiku berharap bahwa aku hanya sedang
bermimpi dalam tidur pulasku, yang nantinya akan terbangun dan menjalani hari-hari
yang seperti dulu lagi, dengan Dunia indah yang kumiliki dan ku goreskan
warna-warni di setiap hariku dan kulukiskan senyum diwajah orang-orang yang ada
di sekitarku, di wajah orangtuaku, sanak saudara, sahabat-sahabatku, dan semua
orang yang menyayangiku yang kini tersa begitu sulit untuk bisaku menadahkan
tangan agar bisa di sentuh mereka, untuk bisa menghapuskan rasa sedih, gundah,
dan hampa dari hati orang-orang yang istimewa itu. Namun semakinku ingin
terbangun, semakin susah pula ku untuk tersadar bahwa aku tak disisi mereka
lagi.
Terkadang terbesit dalam benakku
agarku kembali ke dunia itu. Tempatku mengukir masa lalu yang indah, dan penuh
dengan rasa perhatian dulu. Namun seolah seorang sang raja yang member titah
kepadaku dan menabu genderang perang di hadapanku agarku turun sebaai panglima
perang yang mampu menaklukan semua musuh-musuhku, demi menyelamatkan keluargaku
dan orang-orang yang ada di sekitarku. Karena ku tak ingin keluarga dan sanak
saudara ku terluka, terhina, di cerca, dan terselimuti dengan kesusahan. Hingga
terpikir olehku “ apalah artinya ku mengikuti keegoisan hati, di banding
kebahagiaan keluargaku dan orang-orang di sekitarku.
Kulangkah
perlahan demi perlahan kaki ini, meski terasa begitu sangat berat. Dengan niat
dan tekad yang bulat dan semangat dari orang-orang di sekelilingku menjadikan
penuntun dan pemicu bagiku. Kutinggalkan semua kenangan indah, ku tinggalkan
tempat ku dilahirkan dan di besarkan, kutinggalkan warisan tanah luhur nenek
moyangku, kutinggalkan engkau kampung halaman tercintaku, meski dalam hati
berkata
‘’ tiada akan kekal ku jauh darimu, dan suatu saat
nanti aku akan kembali kepangkuanmu dan termakan tanah disisimu setelah terwaris
ilmu dan apa yang aku miliki kepada sanak saudaraku’’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar